Rabu, April 03, 2013

Manusia, Hidup dan Matinya

Manusia sering membicarakan tentang kehidupannya, bukan tentang kematiannya. Demikian rasanya apa yang diucapkan Pramoedya Ananta. Saya mengatakannya iya, karena saya sendiri mengalaminya. Ketika kita hidup, maka berlomba-lombalah mengejar dunia seakan kita akan hidup seribu tahun lagi. Dan itu semua dekat dengan materi, karena kesuksesan selalu diukur dengan standar minimal, memiliki pekerjaan tetap, rumah pribadi, kendaraan pribadi, network yang tidak sedikit pun tidak banyak, pasangan yang setara baik dari segi penghasilan maupun pendidikan kalau bisa malah lebih dan anak-anak yang meramaikan rumah pribadi. 

Ya, semua orang ingin memilikinya. Karena itu tidak sedikit yang berjuang keras untuk meraihnya. Jikalau kita memang bukan berasal dari keluarga kaya, lain cerita. Tetapi setelah semua ada, akan segera puas kah kita? Mungkin iya mungkin juga tidak. Cerita menjadi lain, ketika teman sudah mulai bersimpuh di depan Ka'bah. Hei, kemana kita selama ini? Sudah jauh kah Tuhan ketika dunia menyilaukanmu? Sebanding kah dunia yang kau kejar dengan apa yang akan hakiki kau dapati setelah kematianmu? 

Tuhan, sholat wajib saya sering diujung tanduk, sholat dhuha saya hanya terkerjakan dua rakaat, saya baru bisa ber zakat fitrah dan ber zakat profesi, berpuasa wajib dan belum merutinkan sholat malam, merutinkan infaq, sedekah dan puasa sunnah. Rukun yang kelima pun masih sebatas wacana. 

Tuhan, kalau surgaMu seluas langit dan bumi, surga kelas apa yang dapt kudiami nanti?

Senin, Juli 23, 2012

Tentang Hari Anak 2012

Kemarin tanggal 23 Juli. Pemerintah menetapkannya sebagai Hari Anak Nasional. Belum terlalu telat rasanya, kalau saya mau menulis sesuatu yang ada hubungannya dengan anak. Tidak ada tinjauan astronomi atau fikih yang bermain diterlambat atau tidaknya saya menulis tanggal 24 Juli. Saya dikarunia satu putri dan satu putra. Dua-duanya normal. Alhamdulillah. Yang satu berumur 3 tahun, yang satu berumur 1,5 tahun. Sebagai perempuan saya nyaris sempurna menurut pandangan masyarakat kebanyakan. Memiliki keluarga dengan anugerah dari Tuhan yang lengkap, anak perempuan dan laki-laki, suami dengan jabatan yang terus merangkak naik, memiliki pekerjaan yang kata orang bermasa depan dan masa pensiun yang jelas, dan di masa sekarang menjadi perempuan yang g 'ngathong' ke suami secara finansial, memiliki network yang tidak sedikit walau juga tidak banyak. Sudah cukup puas kah saya? Sebagai manusia, jawaban saya adalah belum. Penghasilan yang saya miliki (sebagai perempuan, walaupun agama saya mengajarkan suami harus menafkahi istri bagi istri yang memiliki pendapatan sendiri, saya tidak mau tergantung, inilah egoisme terbesar yang saya miliki) sering membuat saya tidak puas. Berburu dollar istilah teman-teman kerap saya lakukan. Semuanya harus bernilai rupiah. Gila! Saya seperti akan hidup di dunia seribu tahun lagi. Dampaknya terbawa ke rumah. Anak saya yang pertama ada di penitipan, anak kedua saya ada di rumah bersama pengasuhnya. Saya sering memikirkan urusan perut ketika sampai di rumah. Makanan apa yang akan saya sajikan. Anak-anak asyik dengan mainan dan pengasuhnya. Kadang mereka ingin bermanja dengan saya, umminya, tetapi apa daya tubuh ini kadang sudah lelah untuk bercengkerama dengan mereka. Kata-kata kasar secara sadar keluar dari mulut saya, yang kata orang berpendidikan. Rumah menjadi kurang layak anak.Hmmmmm.... Teori Psikologi tentang perkembangan anak belum sepenuhnya saya terapkan, masih tersimpan rapi di buku teksnya plus arsiran berwarna yang menandakan bahwa ini adalah point penting, yang harus diimplementasikan pun juga bisa dijadikan acuan untuk menulis artikel. Kalau saham akhirat itu bernama anak-anak, kapan saya bisa mulai menanamkan saham saya lebih banyak. Tuhan bantu saya untuk itu. Bismillah...

Rabu, April 13, 2011

(Telah, Sedang) Menjadi Ibu

Dua tahun delapan bulan perjalanan perkawinanku tak terasa sudah terlalui. Dua titipan Tuhan sudah meramaikan istanaku. Satu perempuan, satu laki-laki. Jarak yang begitu dekat antara kakak dan adik mempengaruhi kondisi psikologisku, dan juga anak-anakku.
Aku dan juga anak perempuanku. Sering aku harus membuat anakku menangis, karena dalam pandanganku dia selalu membuat keributan, menambah pekerjaanku yang sudah capek karena bekerja diluar rumah. Sementara anak perempuanku menjadi tidak terlalu dekat dengan aku, karena menurutnya dia selalu salah dihadapanku, dan aku harus menerima akibatnya, kadang dia memperlakukanku seperti aku memperlakukannya, membentak atau mau melempariku sesuatu. Aargghh....siapa yang salah kalau seperti ini? tak mungkin aku menyalahkan anak perempuanku, yang masih dua tahun. Dunianya baru sebatas mengimitasi, menerima semua hal baik positif maupun negatif dibenaknya, dunia bermain...

Senin, Maret 28, 2011

Gado-gado diawal tahun 2011

Sedih dan Bahagia

Ku mulai tahun 2011 dengan bertambahnya amanah Tuhan kepadaku. Arfan, jagoan kecilku lahir, melengkapi kebahagiaanku dipenghujung tahun 2010. Kesibukan pun dimulai.

Sibuk memulihkan kondisi fisik pasca melahirkan
Sibuk menata hati karena baby blues
Sibuk mengurus anak, suami dan lain-lain yang semakin melegalkan domestikasiku sebagai perempuan

Terpinggirkan karena sebagai perempuan yang bekerja harus dihadapkan pada kenyataan dilapangan yang 'kurang bersahabat' kurang sehat kalau istilah seorang kawan...

(Bersambung)

Minggu, Mei 30, 2010

I'm Pregnant (Again)!

Just one word that i can say : S U R P R I S E !

Selasa, April 13, 2010

Filosofi Andrea Hirata (dalam Sang Pemimpi)

- Berbuat yang terbaik pada titik dimana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis - (Sang Pemimpi, 2007:208)

Terhenyak diri ini membuka kembali novel yang menggugah semangat milik si Ikal..
Kemudian muncul pertanyaan, sudahkah diri ini berbuat yang terbaik dititik dimana saat ini aku berdiri? As a wife, as a mother, as a daughter, as a civil servant, as a lecturer...
Pada suatu keadaan yang kadang membuatku tertawa, yang kadang membuatku menangis, mengeluh, merasa kecil, merasa hina, tapi juga terkadang merasa bangga...
Arrgghh...

Kamis, Januari 21, 2010

Program Unik Pemerintah Korea Selatan

Instruksi Pemerintah : Pulang dan buatlah bayi (vivanews.com)


Komentar pertama:hahahahahahahaha...sebuah program yang memang unik. Disaat Indonesia masih berfikir keras untuk menurunkan laju pertambahan penduduknya, pemerintah Korea Selatan membuat sebuah akselerasi untuk masa depannya.

Seperti kita tahu, Indonesia dengan BKKBNnya berusaha membuat program untuk menekan jumlah penduduk tanpa mengesampingkan hak asasi manusia. Dengan tag line, dua anak lebih baik, jelas dimaknai sebagai ayolah dua saja, jangan nambah lagi...pemerintah hanya sanggup membiayai dua anak saja, tak bisa lebih. Hei, tunggu dulu...menurut UU setiap orang punya hak untuk memperbanyak diri (amoeba kali ye). Dari mana pemerintah tahu dua anak lebih baik?

Mungkin dari segi pemenuhan kebutuhan si anak..ya kebutuhan primernya, ya sekundernya, ya tersiernya.
Mungkin dari kesehatan reproduksi si ibu.
Mungkin dari kesanggupan ekonomi si bapak.

Semuanya masih serba teori kemungkinankan?
Bagi temen-temen yang mengikuti anjuran pemerintah Indonesia silahkan, yang mau mengikuti program unik pemerintah Korea Selatan juga ga masalah walaupun domisili di Indonesia, tapi resiko tanggung sendiri (ga da tunjangan beras, hehehehehe)